Refleksi Pertemuan ke-1
dengan Prof. Dr. Marsigit, M.A "Obyek filsafat meliputi yang ada dan yang
mungkin ada."
Refleksi pertemuan ke-1
Selasa, 9 Februari 2016
Judul : Obyek
Filsafat Meliputi Yang Ada Dan Yang Mungkin Ada
Nama : Eki
Rahmad
NIM : 15709251049
Kelas :
Pendidikan Matematika kelas C PPs UNY
Pada
pertemuan ke-1 (pertama) matakuliah matematika model diajar oleh dua dosen,
yaitu Prof. Dr. Marsigit, M.A dan Dr. Ariyadi Wijaya S.Pd.Si., M.Sc. perkuliah
dimulai dengan Prof. Dr. Marsigit, M.A
mengulas kembali filsafat ilmu secara ringkas, alasannya adalah belajar
matematika model sangat erat hubungannya dengan filsafat. Filsafat sebagai
landasan awal dalam belajar matematika model.
Awalnya Prof. Dr. Marsigit, M.A
menjelaskan obyek filsafat
itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Seperti
halnya kita ingin mengetahui sesuatu, dengan adanya keinginan kita akan
menjadikan posisi yang mungkin ada menjadi ada. Tidak adanya keinginan
tidak akan mengerti bedanya yang mungkin ada menjadi ada.
“Misalnya, apakah
kalian tahu tanggal lahir cucu saya?” Prof Marsigit mengajukan pertanyaan.
“belum” jawab serentak
mahasiswa.
“apa kalian ingin
mengetahuinya?” Prof Marsigit mengajukan pertanyaan lagi
“tanggal lahir cucu
saya 24 Desember 2013”
Setelah diberitahu
tanggal lahir cucunya yaitu 24 Desember 2013. Kita akan mengetahui dari yang
ada dan sudah menjadi ada dalam pikiran kita. Itulah hebatnya Tuhan, keagungan
Tuhan tidak seberti kalkulator mau menyimpan data harus di elus-elus dulu belum
kalau habis batre. Hal ini menunjukkan ciptaan Tuhan itu absurd. Pikiran
manusia tidak perlu mengisi batre. Proses masuknya pengetahuan kedalam fikiran
manusia sangat “soft” sekali, tanpa
bisa dirasakan, tiba-tiba pengetahuan itu sudah masuk kedalam fikiran kita,
beda dengan halnya kalkulator tadi yang mungkin juga bisa terjadi error.
Sebenar-benarya orang belajar adalah mengadakan yang mungkin ada menjadi
ada.
Sifat
dari yang ada akan tetap dalam pikiran, maka lahirlah filsafat Idealisme dengan
tokohnya Plato. Yang ada bersifat Abstrak, Konsisten, Absolute dan Formalisme.
Aliran ini memakai Logika atau rasio, maka lahirlah filsafat Rasionalisme
tokohnya R. Descartes. Tidak akan jadi filsafat kalau tidak berdasarkan pikiran
para filsuf.
Sifat
dari yang mungkin ada selalu berubah, berada di luar pikiran. Maka lahirlah
filsafat Realisme (berdasarkan pengalaman) dengan tokohnya Aristoteles. Yang
mungkin ada bersifat konkrit karena memakai pengalaman, maka lahirlah filsafat
Empirisme tokohnya D. Home. Adanya korespondensi dan persepsi, Benar jika
berkorenpondensi dengan fakta dan alat ukurnya adalah indra. Objek filsafat
yang mungkin ada selalu berstruktur, contohnya:
.
(titik) ini bangunan, bangunan ya berupa titik.karena bisa membedakan mana
titik dan mana buka titik. Begitupun garis, kurva dan bangunan bertingkat
itupun dikatakan berstruktur.
Berstruktur nanti akan
menjadi model, nanti adanya matematika model. Pertemuan ini hanya membahas
objeknya saja belum memakai metode. Karena ilmu itu menggunakan metode dan ada
alat, Filsafat itu objeknya yang ada dan yang mungkin ada. Metodenya
hermenitika yaitu “metode hidup” kalau di orang islam itu silaturahmi. Alatnya
menggunakan analog. Ini metode manusia yang paling mendasar, metode yang paling
tinggi itu yang hakiki orang berpikir. Segala macam metode seperti tanya jawab
itu merupakan bagian dari hidup. Bagi anak kecil dipegang dilihat dan diraba
itu sudah termasuk proses membuktikan. Hidup
hanya menggunakan logika saja akan kosong, begitu juga jika hidup hanya
berdasarkan pengalaman saja akan buta. Seperti halnya hewan, mereka memiliki
pengalaman tapi tidak memakai logika. Hidup itu interaksi antara yang kosong
dan buta. Akan menjadi ilmu jika dengan logika dan pengalaman.
Tahun
1671 Immanuel Kant membrikan jalan tengah terhadap perseteruan kedua aliran
filsafat mengenai objek filsafat ilmu. Menurut Imanuel Kant, jika logika saja
bersifat Analitik dimana pembuktiaan i=i (prinsip identitas) dan terancam bukan
ilmu, sedangkan bila pengalaman saja bersifat sintetik A≠A (prinsip
kontradiksi) juga terancam bukan ilmu. Logika bersifat “Apriori” (mampu
memikirkan hal sebelum terjadi) yang absolute dan formal. Seperti para ilmuwan
bisa ke planet Mars karena mereka bersifat A priori. Sedangkan pengalaman
bersifat “Aposteriori” (memikirkan hal setelah terjadi) yang relatif. Menurut
Imanuel Kant sebenar-benarnya pengalaman adalah bersifat Apriori dan Sintetik.
Begitu juga sebenar-benarnya pengetahuan bersifat sintetik.
Aliran
filsafat terbaru yaitu aliran positivisme tokohnya August Compte (1857). Aliran
ini bagaikan tembok besar bagi aliran-aliran filsafat sebelumnya. Comte dengan
tegas menolak semua konsep yang ada. Gunungan dalam aliran positivisme,
menyimpan saintifik paling atas karena filsafat positivisme berpendapat
bahwa memajukan dunia hal yang paling utama dengan karya ilmiah. Setelah
saintifik aliran positivisme menyimpan filsafat pada tahap ke-2 dan yang paling
dasar adalah agama. Hal tersebut dikenal dengan fenomena comte.
Dalam
struktur Indonesia menyimpan spiritual paling atas, karena masyarakat Indonesia
hidup yang tidak terlepas dari sifat spiritualis. Setelah itu Normatif, Formal
dan terakhir Material. Inilah struktur Indonesia yang di perjuangkan. Tetapi
struktur ini mengalami serangan dari luar, sehingga terjadi disorientasi
(kebingungan) buadaya. Kemudian disorientasi ini dianalogikan oleh Prof
Marsigit dengan cerita wayang Resi Gotawa dan Dewi Windarti.
Apabila
dilihat zaman sekarang sudah menginjak Fenomena Kontemporer. Struktur paling
atas dari dunia Kapitalisme yang dikenal dengan Pos Pos Modern ke Materialisme,
Hedonisme, Liberalisme, Utilitarianisme kemudian ICT (adanya fenomena
teknopoli). Di bawah pos pos modern ada pos modern, modern, feudal,
tradisional, tribal, archaic. Oleh keadaan ini, spiritual dianggap sesuatu yang
tradisonal, tribal, archaic. Keadaan seperti ini dari waktu ke waktu menyerang
Indonesia karena sekarang Indonesia sedang mengalami kebingungan budaya tadi.
“ Contohnya saja
keponakan saya, umur empat tahun sudah bisa memainkan smartphone dan dia bisa
mengunci agar apa yang dilakukan tidak ketahuan” jelas Prof Marsigit.
“ Apa kalian tahu apa
yang dibukanya?..yaitu situs yang tidak baik”
Kurikulum
2013 menekankan metode saintifik. Metode saintifik itu hanya salah satu aspek
dari ilmu humaniora, sepertiganya daripada hermeneutika. Jika Kurikulum 2013
akan mengangkat metode Saintifik sebagai slogan atau tema universal, maka akan
terjadi ketimpangan. Tidaklah mungkin bagian dapat mengatasi/melingkupi
keseluruhannya. Saintifik adalah bagian dari Humaniora. Humaniora manusia
dikembangan dengan metode sunatullah (terjemah dan diterjemahkan) dan lahirlah
metode Hermenitika. Dalam Hermeneutika terdapat 3(tiga) komponen dasar utama
yaitu metode menukik, metode mendatar dan metode mengembang dalam titik ada 3
elemen. Elemen menukik yang artinya mendalami secara intensif dengan memakai
metode saintifk. Metode mendatar itu artinya membudayakan
(istiqomah/sustain). Metode mengembang yang artinya membangun dunia
(constructive).

