Senin, 15 Februari 2016

Obyek Filsafat Meliputi Yang Ada Dan Yang Mungkin Ada

Refleksi Pertemuan ke-1 dengan Prof. Dr. Marsigit, M.A "Obyek filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada."
Refleksi pertemuan ke-1
Selasa, 9 Februari 2016
Judul   : Obyek Filsafat Meliputi Yang Ada Dan Yang Mungkin Ada
Nama   : Eki Rahmad
NIM    : 15709251049
Kelas   : Pendidikan Matematika kelas C PPs UNY



Pada pertemuan ke-1 (pertama) matakuliah matematika model diajar oleh dua dosen, yaitu Prof. Dr. Marsigit, M.A dan Dr. Ariyadi Wijaya S.Pd.Si., M.Sc. perkuliah dimulai  dengan Prof. Dr. Marsigit, M.A mengulas kembali filsafat ilmu secara ringkas, alasannya adalah belajar matematika model sangat erat hubungannya dengan filsafat. Filsafat sebagai landasan awal dalam belajar matematika model.
 Awalnya Prof. Dr. Marsigit, M.A menjelaskan obyek filsafat itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Seperti halnya kita ingin mengetahui sesuatu, dengan adanya keinginan kita akan menjadikan posisi yang mungkin ada menjadi ada. Tidak adanya keinginan tidak akan mengerti bedanya yang mungkin ada menjadi ada.
“Misalnya, apakah kalian tahu tanggal lahir cucu saya?” Prof Marsigit mengajukan pertanyaan.
“belum” jawab serentak mahasiswa.
“apa kalian ingin mengetahuinya?” Prof Marsigit mengajukan pertanyaan lagi
“tanggal lahir cucu saya 24 Desember 2013”
Setelah diberitahu tanggal lahir cucunya yaitu 24 Desember 2013. Kita akan mengetahui dari yang ada dan sudah menjadi ada dalam pikiran kita. Itulah hebatnya Tuhan, keagungan Tuhan tidak seberti kalkulator mau menyimpan data harus di elus-elus dulu belum kalau habis batre. Hal ini menunjukkan ciptaan Tuhan itu absurd. Pikiran manusia tidak perlu mengisi batre. Proses masuknya pengetahuan kedalam fikiran manusia sangat “soft” sekali, tanpa bisa dirasakan, tiba-tiba pengetahuan itu sudah masuk kedalam fikiran kita, beda dengan halnya kalkulator tadi yang mungkin juga bisa terjadi error. Sebenar-benarya orang belajar adalah mengadakan yang mungkin ada menjadi ada. 
Sifat dari yang ada akan tetap dalam pikiran, maka lahirlah filsafat Idealisme dengan tokohnya Plato. Yang ada bersifat Abstrak, Konsisten, Absolute dan Formalisme. Aliran ini memakai Logika atau rasio, maka lahirlah filsafat Rasionalisme tokohnya R. Descartes. Tidak akan jadi filsafat kalau tidak berdasarkan pikiran para filsuf.
Sifat dari yang mungkin ada selalu berubah, berada di luar pikiran. Maka lahirlah filsafat Realisme (berdasarkan pengalaman) dengan tokohnya Aristoteles. Yang mungkin ada bersifat konkrit karena memakai pengalaman, maka lahirlah filsafat Empirisme tokohnya D. Home. Adanya korespondensi dan persepsi, Benar jika berkorenpondensi dengan fakta dan alat ukurnya adalah indra. Objek filsafat yang mungkin ada selalu berstruktur, contohnya:
. (titik) ini bangunan, bangunan ya berupa titik.karena bisa membedakan mana titik dan mana buka titik. Begitupun garis, kurva dan bangunan bertingkat itupun dikatakan berstruktur.
Berstruktur nanti akan menjadi model, nanti adanya matematika model. Pertemuan ini hanya membahas objeknya saja belum memakai metode. Karena ilmu itu menggunakan metode dan ada alat, Filsafat itu objeknya yang ada dan yang mungkin ada. Metodenya hermenitika yaitu “metode hidup” kalau di orang islam itu silaturahmi. Alatnya menggunakan analog. Ini metode manusia yang paling mendasar, metode yang paling tinggi itu yang hakiki orang berpikir. Segala macam metode seperti tanya jawab itu merupakan bagian dari hidup. Bagi anak kecil dipegang dilihat dan diraba itu sudah termasuk proses membuktikan. Hidup hanya menggunakan logika saja akan kosong, begitu juga jika hidup hanya berdasarkan pengalaman saja akan buta. Seperti halnya hewan, mereka memiliki pengalaman tapi tidak memakai logika. Hidup itu interaksi antara yang kosong dan buta. Akan menjadi ilmu jika dengan logika dan pengalaman. 
Tahun 1671 Immanuel Kant membrikan jalan tengah terhadap perseteruan kedua aliran filsafat mengenai objek filsafat ilmu. Menurut Imanuel Kant, jika logika saja bersifat Analitik dimana pembuktiaan i=i (prinsip identitas) dan terancam bukan ilmu, sedangkan bila pengalaman saja bersifat sintetik A≠A (prinsip kontradiksi) juga terancam bukan ilmu.  Logika bersifat “Apriori” (mampu memikirkan hal sebelum terjadi) yang absolute dan formal. Seperti para ilmuwan bisa ke planet Mars karena mereka bersifat A priori. Sedangkan pengalaman bersifat “Aposteriori” (memikirkan hal setelah terjadi) yang relatif. Menurut Imanuel Kant sebenar-benarnya pengalaman adalah bersifat Apriori dan Sintetik. Begitu juga sebenar-benarnya pengetahuan bersifat sintetik.
Aliran filsafat terbaru yaitu aliran positivisme tokohnya August Compte (1857). Aliran ini bagaikan tembok besar bagi aliran-aliran filsafat sebelumnya. Comte dengan tegas menolak semua konsep yang ada. Gunungan dalam aliran positivisme, menyimpan saintifik paling atas karena filsafat positivisme berpendapat bahwa  memajukan dunia hal yang paling utama dengan karya ilmiah. Setelah saintifik aliran positivisme menyimpan filsafat pada tahap ke-2 dan yang paling dasar adalah agama. Hal tersebut dikenal dengan fenomena comte.
Dalam struktur Indonesia menyimpan spiritual paling atas, karena masyarakat Indonesia hidup yang tidak terlepas dari sifat spiritualis. Setelah itu Normatif, Formal dan terakhir Material. Inilah struktur Indonesia yang di perjuangkan. Tetapi struktur ini mengalami serangan dari luar, sehingga terjadi disorientasi (kebingungan) buadaya. Kemudian disorientasi ini dianalogikan oleh Prof Marsigit dengan cerita wayang Resi Gotawa dan Dewi Windarti.
Apabila dilihat zaman sekarang sudah menginjak Fenomena Kontemporer. Struktur paling atas dari dunia Kapitalisme yang dikenal dengan Pos Pos Modern ke Materialisme, Hedonisme, Liberalisme, Utilitarianisme kemudian ICT (adanya fenomena teknopoli). Di bawah pos pos modern ada pos modern, modern, feudal, tradisional, tribal, archaic. Oleh keadaan ini, spiritual dianggap sesuatu yang tradisonal, tribal, archaic. Keadaan seperti ini dari waktu ke waktu menyerang Indonesia karena sekarang Indonesia sedang mengalami kebingungan budaya tadi.
“ Contohnya saja keponakan saya, umur empat tahun sudah bisa memainkan smartphone dan dia bisa mengunci agar apa yang dilakukan tidak ketahuan” jelas Prof Marsigit.
“ Apa kalian tahu apa yang dibukanya?..yaitu situs yang tidak baik”

Kurikulum 2013 menekankan metode saintifik. Metode saintifik itu hanya salah satu aspek dari ilmu humaniora, sepertiganya daripada hermeneutika. Jika Kurikulum 2013 akan mengangkat metode Saintifik sebagai slogan atau tema universal, maka akan terjadi ketimpangan. Tidaklah mungkin bagian dapat mengatasi/melingkupi keseluruhannya. Saintifik adalah bagian dari Humaniora. Humaniora manusia dikembangan dengan metode sunatullah (terjemah dan diterjemahkan) dan lahirlah metode Hermenitika. Dalam Hermeneutika terdapat 3(tiga) komponen dasar utama yaitu metode menukik, metode mendatar dan metode mengembang dalam titik ada 3 elemen. Elemen menukik yang artinya mendalami secara intensif dengan memakai metode  saintifk. Metode mendatar itu artinya membudayakan (istiqomah/sustain). Metode mengembang yang artinya membangun dunia (constructive).  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar